Jakarta, iyf.or.id – pada awal 2018 badan pusat statistik merilis data jumlah pengangguran terbuka di Indonesia. Lagi-lagi pengangguran tertinggi justru ditempati lulusan SMK. Tentu hal ini sangat mengherankan karena lulusan SMK sedianya disiapkan lulus langsung bekerja.

Kondisi ini tentu menjadi keresahan banyak pihak tak terkecuali presiden. Pada 2016 presiden secara khusus  mengeluarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi SMK.

Dalam Inpres ini, presiden secara langsung memberi instruksi  kepada Para Menteri Kabinet Kerja, Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Para Gubernur. Bahkan Presiden secara khusus juga memberikan penugasan kepada  11 Kementerian/Lembaga.

Lalu apa kabar dengan perkembangan SMK saat ini, setelah empat tahun pemerintah Jokowi-JK setelah 2 tahun Inpres tersebut?

Dalam acara penyampaian capaian Empat Tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2018. Secara khusus kemendikbud mendapat kesempatan menyampaikan capaian dibidang pendidikan khususnya SMK.

Menteri pendidikan Muhajir Efendi mengatakan bahwa kebijakan presiden melakukan revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan terus menunjukkan hasil positif. Saat ini 2.700 SMK telah menjalin kerja sama erat dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). 

“Pemerintah mengubah arah pengembangan SMK, dari supply drivenmenjadidemand drivensesuai dengan kebutuhan industri. Industrinya kita libatkan dalam penyusunan kurikulum dan proses pembelajaran,” Ujarnya.

Pemerintah juga telah membangun rintisan SMK yang mendukung program prioritas nasional, di antaranya 239 SMK Kemaritiman, 279 SMK Pertanian, dan 136 SMK jurusan keahlian Pariwisata. 

Selama dua tahun terakhir, Kemendikbud terus mendorong hadirnyatechno park di SMK. Sebanyak 560 SMK telah berhasil merevitalisasi teaching factory-nya sehingga mampu menghasilkan produk-produk dengan standar industri.

“Jadi bukan cuma menghasilkan mainan atau model saja, tetapi sudah banyak SMK yang bisa menghasilkan peralatan, yang sama kualitasnya dengan yang dihasilkan industri,” kata Muhadjir. 

Dalam empat tahun terakhir, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, peningkatan IPM dari 68,9 di 2014, menjadi 70,81 di 2017.